Senin, 23 Juni 2008

Khutbah Jum'at, Kewajiban Mencari Nafkah dan Pahalanya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُِللهِ نَحْمَدُه’وَنَشْكُرُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ.
اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ وَإِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ الْكِرَامُ رَحِمَكُمُ اللهُ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ ، وَاحْذَرْكُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ وَارْتِكَابِ نَوَاهِيْهِ . اِتَّقُوا اللهَ فَإِنَّهُ وَصِيَّةُ اللهِ لِلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ حَيْثُ قَالَ: "وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ فَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قال الله تعالى في القران العظيم :
قالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ.
قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا.
فسر الطباري عن هذه الآية يقول تعالى ذكره : قل يا محمد لهؤلاء الذين يستأذنونك ويقولون : إن بيوتنا عورة هربا من القتل : من ذا الذي يمنعكم من الله إن هو أراد بكم سوءا في أنفسكم من قتل أو بلاء أو غير ذلك أو عافية وسلامة ؟ وهل ما يكون بكم في أنفسكم من سوء أو رحمة إلا من قبله ؟
قال ابن إسحاق : ثني يزيد بن رومان { قل من ذا الذي يعصمكم من الله إن أراد بكم سوءا أو أراد بكم رحمة } أي أنه ليس الأمر إلا ما قضيت
وقوله { ولا يجدون لهم من دون الله وليا ولا نصيرا } يقول تعالى ذكره : ولا يجد هؤلاء المنافقون إن أراد الله بهم سوءا في أنفسهم وأموالهم من دون الله وليا يليهم بالكفاية ولا نصيرا ينصرهم من الله فيدفع عنهم ما أراد الله بهم من سوء في ذلك
وقال شها بالدين ابن حدر العسقلاني فى نصائح العباد ان النبي صلعم قال : يقول ربكم في الحديث القدسي : يا بن ادم تفرغ لعبدتى أملاء قلبك غني واملاء يديك رزقا يابن ادم لا تباعد عني املاء فقرا واملاء يديك شغلا.


Jama’ah Jum’ah rahimakumullah.

Pada kesempatan shalat jum’at yang berbahagia ini, kami sebagai khatib berkewajiban mengajak kepada jama’ah terutama kepada diri kami sendiri untuk meningkatkan taqwa dan keimanan kita kepada Allah Swt, karena ketaqwaan adalah bekal kita untuk di akherat kelak. Mudah-mudahan kita dimudahkan dalam peningkatan iman dan taqwa ini.

Pada kesempatan yang berbahagia ini pula, marilah kita bersama-sama bermuhasabah, intropeksi kepada diri kita sendiri tentang kehidupan kita di dunia yang fana dan serba terbatas ini.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Selama ini kita mengakui bahwa Tuhan kita adalah Allah SWT. Dialah Tuhan yang mengendalikan semua kekuasaan di dunia ini dan tidak membutuhkan pertolongan dari siapapun. Dialah Allah Tuhan yang mampu memberikan manfaat dan mudarat kepada kita, sehingga kita tidak perlu takut Kepada selain-Nya, dan tidak boleh memohon apapun kepada selain-Nya. Karena segala hal yang terjadi di alam semesta ini adalah pasti atas izin-Nya.
Dalam surt al-Anbiya’ : 66 Allah berfirman,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ.
Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"
Dalam surt al-ِالاحزاب’ : 17 Allah berfirman,

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا.


Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.
Dalam tafsirnya At-Thabari mengatakan Bahwa Allah menyapa Nabi seraya mengatakan wahai Nabi katakanlah kepada orang yang mengatakan oh rumahku telah roboh akibat peperangan, Katakanlah Siapa diantara kamu yang berani mencegah kehendak Allah, jika Ia berkehendak menjadikan kamu celaka baik karena perang ataupun lainnya, atau menjadikan kamu sehat-sehat saja dan selamat? Dan apakah akan ada padamu suatu kejelekan atau rahmat sebelum Allah menentukannya?
Maka pastilah kamu tidak akan mendapatkan seorang selain-Nya yang mampu menjadi waliyyan atau nasiron, yakni penolong sejati selain Allah semata.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu saat Nabi Muhammad Saw. Berusaha menyembuhkan orang sakit, setelah diobati, ternyata ia belum juga sembuh. Kemudian orang tersebut berobat kepada Abu Jahal dan ternyata ia sembuh. Melihat hal ini Nabi penasaran, mengapa hal ini bisa terjadi, akhirnya didatangkanlah penyakit itu kepada Nabi dan penyakit itu berbicara kepada Beliau:” Wahai Rasulullah, saat engkau mengobati orang sakit itu, aku belum dizinkan oleh Allah keluar darinya, namun saat aku disembuhkan oleh Abu Jahal, Allah mengizinkan aku keluar darinya” .

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus yakin akan kekuasaan Allah yang mutlak tersebut, kekuasan manusia bahkan seorang Nabi-pun adalah bersifat nisbi. Kita akan menjadi kaya, miskin, naik pangkat, menjadi anak saleh Semua tergantung kepada Allah “Allohu as-Somad” Dialah tempat bergantung segala sesuatu. Sehingga kita harus sadar bahwa apapun yang sedang terjadi saai ini adalah merupakan karuni Allah, dan karunia itu dapat berubah kapan saja jika Allah menghendaki.

Hadirin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui sifat Qudrat atau kekuasaan Allah yang mutlak tersebut, tentunya kita juga harus tahu bahwa Allah juga punya sifat Iradah yakni berkehendak atau berkeinginan. Dan sebagaimana firman Allah dalam surat adzariyat, 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Maka dengan demikian tugas utama kita adalah beribadah kepada Allah semata.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh imam Thabrani, dikatakan bahwa Allah SWT berfirman; “ Wahai bani Adam, bersegaralah beribadah kepadaku karena akan Ku jadikan hatimu kaya dan hidupmu penuh dengan rizki, wahai bani Adam, janganlah kamu jauh dari ku karena akan kujadikan hatimu menjadi miskin dan kamu akan selelu sibuk dan lelah dalam memenuhi keiningan duniamau tersebut, dalam riwayat lain yang senada juga dikatakan, Wahai hambaku, bahwasannya Aku punya keinginan, dan engkaupun punya keinginan, jika engkau mau memenuhi keinginan-Ku, maka Aku akan penuhi semua keinginanmu, dan jika engkau hanya mau menuruti keinginanmu saja maka rasakanlah kelelahan dalam memenuhi keinginanmu tersebut”.
Hadis tersebut jelas sekali mengajak kepada kita untuk memenuhi keinginan atau Iradah Allah, dan kita tidak boleh memenuhi keinginan hawa nafsu kita, karena yang kita dapatkan bisa-bisa hanya kelelahan saja, bukannya ketentraman dan ketenangan yang merupakan harapan hidup kita. Kemudian yang menjadi pertayaan adalah apa saja yang diingini oleh Allah ?

Memenuhi keinginan Allah berarti kita harus melaksanakan melaksanakan kewajiban kita dalam posisinya sebagai hamba Allah, yakni beribadah dengan benar, istiqamah, khusu’ dan iklas karena Allah semata. Ataupun dalam posisinya kita sebagai warga masyarakat dengan cara menjalin kasih sayang sesama, tidak saling menyakiti, bermuamalah dengan jujur, amanah ataupun yang lainnya. Sehingga jika umat muslim sadar akan hal tersebut, terbentuklah suatu masyarakat madani, atau masyarakat yang berbudaya tinggi sesuai dengan ajaran Islam. Adapun standar sebuah masyarakat dapat dikatakan madani ada dua hal, yang pertama adalah jika kita memiliki sifat khaouf hanya takut kepada Allah, karena dialah puncak dari segala hikmah “ Ra’sul Hikmah makhofatullah , kemudian standar kedua adalah kesadaran kita untuk berinfaq dijalan Allah dengan tanpa adanya rasa khawatir menjadi miskin atau berkurang hartanya.

Hadirin Rahimakumullah,
Setelah tugas utama sebagai hamba Allah beribadah, maka ada godaan yang selelu menyertai langkah kita dalam beribadah tersebut yaitu maksiat. sebagaimana dikatakan dalam sebua h syair,

شكوت الى وقيع سؤ حفظي وارشدنى الى ترك المعاصى
تعلم فان العلم الله نور ونور الله لا يهدى للعاصى

“Saya bertanya kepada Syaikh Waki’ tentang jeleknya hafalan saya, kemudian beliau menganjurkan saya agar menjahui maksiat, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah nur, dan nur Allah tidak akan sampai kepada orang yang melakukan maksiat:

Melakukan maksiat adalah sebuah penyakit terberat yang harus kita sembuhkan, mulai dari maksiat yang terkecil hingga maksiat yang besar, mulai dari maksiat yang dilakukan oleh panca indra kita, sampai kepada fungsi dan peran kita dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karenanya Selagi kita diberi kesempatan Allah menjadi khalifah di bumi ini, marilah kita tinggalkan maksiat sekecil apapun dengan sekuat tenaga agar Nurullah sampai kepada hati kita.

Jangan sampai setelah kita meninggal nanti kita memohon kepada Allah agar ruh kita dikembalikan kepada jasadnya hanya untuk bertaubat, jika kita ahli maksiat. Ataupun memohon ruh kita dikembalikan kepada jasadnya karena telah merasakan manisnya iman dan kembali kedunia untuk lebih banyak beribadah, jika kita seorang ahli ibadah. Inilah saatnya kita membuat catatan baru yang lebih baik dalam buku amal kita masing-masing dan tidak perlu menunda-nunda melaksanakannya, hari ini harus lebih baik dari hari esok, karena kita tidak tahu apakah umur kita akan sampai kepada esok hari atau tidak.

Hadirin rahimakumullah,
Demikianlah khutbah singkat pada hari yang penuh barokah ini, semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari Amin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، اَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَاستغْفِرُوا اللهَ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْآنَ . خَلَقَ اْلإِنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانُ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الدَّيَّانْ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُؤَيَّدُ بِالْمُعْجِزَاتِ وَالْبُرْهَانِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَإِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى تَرَقَّى فِيْهِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ أَعْلَى الْجِنَانِ . أمابعد
فَيَآأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ الْكِرَامُ رَحِمَكُمُ اللهُ : اِتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا وَأَنْفِقُوْا خَيْرًا ِلأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
وَاعْلَمُوْا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ الْكِرَامُ رَحِمَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا تَعْظِيْمًا لِقَدْرِ نَبِيِّهِ وَتَعْلِيْمًا لَنَا وَتَكْرِيْمًا ، وَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلْ : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْنَا وَوَفِّقْ وُلاَةَ أُمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيْهِ خَيْرُ اْلأُمَّةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِالْحَقِّ وَأَيِّدِ الْحَقَّ بِهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

الله أكبر

Tidak ada komentar:

Posting Komentar